LITOSFER
A.
SEJARAH PEMBENTUKAN MUKA BUMI
Bumi
merupakan salah satu planet dalam sistem tata surya yang diyakini terbentuk
bersamaan dengan terbentuknya tata surya itu sendiri, yaitu sekitar 5.000 juta
tahun yang lalu. Para ahli memperkirakan bahwa matahari terbentuk terlebih
dahulu, sedangkan planet-planet termasuk bumi masih dalam wujud awan, debu, dan
gas kosmis yang disebut nebula yang berputar mengelilingi matahari. Awan, debu,
dan gas kosmis tersebut terus berputar dan pada akhirnya bersatu karena
pengaruh gravitasi, kemudian mengelompok membentuk bulatan-bulatan bola besar
disebut planet, termasuk di dalamnya Planet Bumi.
Bumi
pada awalnya merupakan planet yang sangat panas, suhu permukaannya mencapai
4.000° C. Dalam jangka waktu jutaan tahun, suhu bumi kemudian turun dan
mengakibatkan terjadinya pembekuan bagian permukaan bumi disebut kerak atau
kulit bumi (litosfer), sedangkan bagian dalam Planet Bumi sampai saat ini masih
dalam keadaan panas dan berpijar.
1.
Struktur Bumi
Struktur Lapisan
Kulit Bumi (Litosfer) dan Pemanfaatannya
a.
Pengertian Litosfer
Litosfer
merupakan lapisan kulit, berasal dari kata litos yang artinya batu, sfeer atau
sphaira, yang berarti bulatan, sehingga litosfer dapat dikatakan sebagai
lapisan batuan atau kulit bumi yang mengikuti bentuk bumi yang bulat. Inti
dalam mempunyai jari-jari lebih kurang 1.300 km. Kulit bumi mempunyai ketebalan
yang tidak merata antara kulit bumi bagian dataran dan bagian bawah samudra, di
mana kulit bumi di bagian benua atau dataran lebih tebal daripada di bawah
samudra. Bumi terdiri atas lapisan-lapisan. Lapisan-lapisan tersebut sebagai berikut
Gambar
: lapisan – lapisan kulit bumi
a.
Lapisan – lapisan kulit litosfer
1.
Barisfer, terdiri atas bahan padat
yang terbentuk dari lapisan nife (niccolum = nikel dan ferrum = besi) dengan
jari-jari ±3.470 km dan batas luar lebih kurang 2.900 km di bawah permukaan
bumi. Lapisan ini merupakan lapisan inti bumi, sehingga litosfer dapat
dikatakan sebagai lapisan batuan atau kulit bumi yang mengikuti bentuk bumi
yang bulat.
2.
Lapisan pengantara
(asthenosfer/mantle) adalah bahan cair yang bersuhu tinggi dan pijar. Lapisan
pengantara (asthernosfer/mantle) ini merupakan lapisan yang terdapat tepat di
atas lapisan nife dan mempunyai ketebalan lebih kurang 1.700 km, berat jenisnya
rata-rata 5 gr/cm3.
3.
Litosfer, merupakan lapisan yang
terdapat di atas lapisan pengantara, mempunyai ketebalan kurang lebih 1.200 km,
dengan berat jenis rata-rata 2,8 gr/cm3. Dua bagian penyusun litosfer (kulit
bumi) sebagai berikut.
a.
Lapisan Sial, mempunyai ketebalan
rata-rata ± 35 km, merupakan lapisan kulit bumi yang terbentuk dari logam
silisium dan aluminium, dengan senyawanya yang berbentuk SiO2 dan Al2O3. Selain
itu, lapisan ini juga mengandung jenis-jenis batuan metamorf, batuan sedimen,
granit, andesit, dan batuan lain yang terdapat di daratan benua. Karena
sifatnya yang padat dan kaku, lapisan sial disebut juga lapisan kerak. Lapisan
kerak ini terdiri atas dua bagian, yaitu kerak samudra dan kerak benua.
1. Kerak samudra, kerak yang terdapat
di samudra ini adalah benda padat yang terbentuk dari endapan di dasar laut
bagian atas, yang bagian bawahnya terdapat batuan-batuan vulkanik. Lapisan
paling bawahnya tersusun dari batuan beku gabrodan peridotit.
2.
Kerak benua, merupakan benda padat
yang terdiri dari batuan beku granit pada bagian atasnya dan batuan beku basalt
pada bagian bawahnya. Kerak ini yang menempati sebagaibenua.
b. Lapisan Sima, adalah bahan yang bersifat elastis dengan ketebalan lebih kurang 65 km. Lapisan ini tersusun oleh logam-logam silisium dan magnesium dalam bentuk senyawa SiO2 dan MgO. Lapisan sial mempunyai berat jenis yang lebih kecil daripada lapisan Sima. Hal ini disebabkan lapisan Sima mengandung besi dan magnesium, yang mengandung mineral feromagnesium dan batuan basalt. Kulit bumi mengandung berbagai macam batuan, yang dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan metamorf.



